KONTRIBUSI PEREMPUAN DALAM DAKWAH RASULULLAH SAW



Seringkali kita mendengar narasi perempuan dalam islam, tidak jauh-jauh dari tubuh perempuan. Apakah jilbab itu wajib atau pilihan? Apakah cadar itu bagian dari syariat islam? Kampanye poligami yang dilandasi hasrat, bukan karena aspek sosial.

Sejarah selalu dinarasikan dengan heroik, dan mengabaikan perasaan yang dialami pelaku sejarah. Suara perasaan dianggap tidak objektif, sehingga diabaikan dalam pencatatan sejarah. Padahal bila kita bicara mengenai islam, kita tidak bisa meninggalkan sisi feminim dalam diri manusia. Seperti cinta kasih, kelemah lembutan, kesabaran, dll.

Kita sering melupakan bahwa sejarah islam adalah bagian dari rasa cinta seorang Khadijah kepada Rasulullah SAW. Khadijah adalah seorang bangsawan, hartawan, cantik dan budiman. Ia disegani oleh masyarakat Quraisy khususnya, dan bangsa Arab pada umumnya. Sebagai seorang pengusaha, ia banyak memberikan bantuan dan modal kepada pedagang-pedagang dan mengutus orang-orang untuk mewakili urusan-urusan perniagaannya ke luar negeri.

Banyak pemuda Quraisy yang awalnya ingin menikahinya dan sanggup membayar mas kawin berapa pun yang dikehendakinya. Namun selalu ditolaknya dengan tutur kata halus, karena belum berkenan di hatinya. Ia justru mengharapkan sosok yang mampu mengawal diri dan hartanya untuk perjuangan kebenaran. Dan kemudian itulah ada pada sosok Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Khadijah merelakan hidup kelihatannya menderita secara fisik tapi bahagia dalam jiwa. Semakin berkurang hartanya secara materi tapi justru semakin banyak pahalanya, seolah meninggalkan kemegahan duniawi tapi justru menuju keindahan ukhrawi. Ia pun rela dan ridha menyediakan rumahnya untuk pusat dakwah Nabi, mengantar makanan ke tempat ibadah Nabi, menenangkan jiwa Nabi manakala ketakutan bertemu Malaikat Jibril kali pertama, yang menyelimuti kegundahan Nabi, serta membiayai perjuangan Nabi hatta ketika diboikot penduduk kafir Quraisy. Dan perjuangan itu dilakukannya hingga akhir hayatnya.

Betapa besar rasa cinta itu menopang dalam sejarah islam. Karena rasa cinta, Khadijah menjadi orang pertama yang mengakui kenabian Rasulullah SAW. Karena rasa cinta, Khadijah menjadi orang pertama yang masuk islam. Karena rasa cinta, Khadijah rela hartanya digunakan untuk menopang dakwah Rasulullah SAW. Maha Suci Allah, atas cinta suci yang mengalir dalam nafas, jiwa, raga Khadijah. Hingga membuat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyetakannya dengan:

“واللهِ، ما أبدلَنِي اللهُ خيْرًا مِنْها: آمَنَتْ بِي حِيْنَ كَفَر الناسُ، وصدَّقَتْني إِذْ كَذَّبَنِي الناسُ، ووَاسَتْنِي بِمَالِها إِذْ حَرَّمَنِي النَّاسُ، ورَزَقَنِي منها اللهُ الوَلَدَ دون غَيْرِها من النِّسَاءِ.”

Artinya : “Demi Allah, Allah tidak memberiku wanita pengganti yang lebih baik daripadanya: dia (Khadijah) beriman kepadaku tatkala orang-orang mengingkariku; dia (Khadijah) memercayaiku ketika orang-orang mendustakanku; dia (Khadijah) membantuku dengan hartanya saat orang-orang tidak mau membantuku; dialah (Khadijah) ibu dari anak-anak yang Allah anugerahkan kepadaku, tidak dari istri-istri yang lain”.
Dan begitulah akhir kata-kata Khadijah kepada suaminya, ”Wahai Rasul utusan Allah, tiada lagi harta dan hal lainnya yang bersamaku untuk aku sumbangkan demi dakwah. Andai selepas kematianku, tulang-tulangku mampu ditukar dengan dinar dan dirham, maka gunakanlah tulang-tulangku demi kepentingan dakwah yang panjang ini”. Maka, sangat layaklah bila Khadijah, mendapat keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lain dan dijamin masuk surga.

Oleh karena itu, mari kita mengingat konstribusi seorang perempuan yang luar biasa dalam perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Perempuan itu insan, sama halnya dengan laki-laki. Dalam mengerjakan amal-amal saleh, kedudukan laki-laki dan perempuan adalah setara, tidak ada diskriminasi. Baik laki-laki maupun perempuan yang beramal saleh dalam keadaan beriman kepada Allah, sama-sama berhak menempati surga yang telah dipersiapkan oleh Allah SWT.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Sumatera Barat

Mengapa Wanita Cantik Terkadang Pasangannya Tidak Tampan?