Jangan Mengutuk Kegelapan Kalau Tak Mampu Menyalakan Terang

Saya mendapatkan pertanyaan menggelitik dari dosen saya, “Ada apa dengan umat islam? Ada apa?” Saya pun kebingungan atas pertanyaan dosen saya ini. Dosen saya bertanya satu tahun yang lalu, setelah terjadi aksi 212 dan kasus saracen. Sebagai umat islam, saya hanya bisa berdiam. Bagaimana pun mereka masih saudara seiman saya. Bagi saya, tidak ada yang salah dengan penangkapan Ahok. Ahok yang merupakan publik figur yang seharusnya menjadi tauladan bagi warga Jakarta. Sebagai pemimpin, beliau kurang bijak dalam bertutur kata. Beda kalau tukang siomay yang berbicara, ”Jangan mau dibohongi pakai Surat Al Maidah ayat 51,” tentu akan berbeda dampaknya pada masyarakat luas.

Saya terus menerenungi pertanyaan dosen saya ini. Apakah ya umat islam sudah benar-benar berubah? Membaca situasi politik, ekonomi dan kondisi alam saat ini, wajar saja apabila orang-orang dengan mudahnya tersulut. Tahun 2018 dan tahun 2019 adalah tahun politik. Teman-teman saya menjadi tim sukses pun sudah sibuk sekali. Para awak media pun sudah bersiap untuk memuat berita-berita ‘pesanan’. Belum lagi bencana alam terus menerus terjadi secara bergantian.

Sebenarnya tidak hanya umat islam yang ditimpa kekalutan. Teman-teman saya dari gereja Kristen Ortodoks pun merasakan hal yang sama. Namun, alangkah lebih baiknya jangan gegabah dalam menghadapi persoalan yang ada di depan mata. Ini justru waktunya untuk menenangkan diri agar mampu menyelesaikan permasalahan dengan pikiran yang jernih.

Apakah umat islam masih kagetan melihat fenomena yang ada di depan mata? Gerakan-gerakan gegabah banyak terjadi di sekitar kita. Kampanye-kampanye untuk memberangus kemaksiatan digembar-gemborkan. Alasannya untuk mengamalkan nahi mungkar. Tapi apakah benar melakukan penyelesaian masalah tanpa mencari tahu akar permasalahannya secara mendalam?

Yang saya takutkan sejarah akan berulang lagi. Pada zaman kegelapan, otoritas gereja begitu mendominasi. Melawan ajaran gereja sama halnya melawan kitab suci, yang berarti melawan Sang Pecipta langit dan bumi. Para ilmuwan dengan sikap skeptisnya dianggap sesat dan mengajarkan ilmu sihir.  Lalu, banyak yang dipenjarakan, disiksa, bahkan dibunuh.

Maka, perlu kita renungkan. Janganlah kita mengutuk kegelapan kalau tak mampu menyalakan terang. Segala paham-isme; liberalisme, sekulerisme, dsb., muncul karena perilaku pemuka agama yang sewenang-wenang. Apakah kita mau mengulang sejarah yang sama?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Sumatera Barat

Mengapa Wanita Cantik Terkadang Pasangannya Tidak Tampan?