Resensi: Food Combining di Bulan Ramadan



Penulis : Erikar Lebang
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Cetakan : I, Juni 2013
Tebal : xvi 120 halaman
ISBN : 978-979-709-723-3


Erikar Lebang adalah praktisi yoga yang intens berlatih mengeksplorasi hubungan antara penyelaras tubuh, pikiran, jiwa, dan kehidupan. Sejak 1999, dia menjalani food combining (FC) untuk meningkatkan kesehatan. Erikar memahami secara mendalam seluk-beluk FC.
Mungkinkah FC di bulan Ramadan, saat umat Islam berpuasa? Bisa sekali. Hal itu dijelaskan secara gamblang dalam buku tersebut. Buku ini juga baik dibaca mereka yang ingin mengetahui lebih jauh pola makan FC. Mekanisme FC bukanlah konsep diet langsing, tapi pengaturan pola makan yang mengacu pada sistem kerja tubuh, terutama pencernaan. Jadi, tidak seperti diet lain yang mendiktekan makanan yang harus dikonsumsi agar berguna bagi tubuh. FC mencari tahu dulu keperluan tubuh, lalu konsumsinya disesuaikan, (halaman 29).
Pola makan FC memperhatikan makanan, waktu, dan cara. Ada empat unsur makanan, meliputi pati, protein, sayuran, dan buah. FC mengacu pada ritme biologis dalam mengatur jam makan yang tepat sesuai kebutuhan serta siklus aktif di tubuh.

Banyak kebiasaan makan yang dilakukan masyarakat Indonesia yang ternyata tidak tepat. Misalnya, protein hewani dan pati (karbohidrat) akan menghasilkan masalah bagi pencernaan bila dimakan bareng. Pati disajikan bersama sayuran adalah kombinasi yang ideal dan saling melengkapi karena serat pada sayuran membuat efek buruk pati dalam jumlah berlebihan, sedikit teratasi.

Bagi pelaku FC yang berpuasa, dengan banyak konsumsi sayur dan buah. Jadikan ini menu utama selama Ramadan, untuk bersahur, berbuka, serta menu makan malam. Jauhi pola makan berbasis budaya kuliner yang umum selama Ramadan. Kalaupun sulit menolak undangan, batasi, cukup satu atau dua kali sepekan, (halaman 54).

“Apabila mereka biasa bangun pukul 03.00, lalu santap sahur pukul 3.30–4.00, pelaku FC perlu bangun lebih awal, (halaman 77). Perlu diketahui, bahwa dalam siklus sirkadian, waktu sahur pukul 03.00–04.30 ada dalam fase “pembuangan” tubuh. Pada fase itu tubuh baru saja menyelesaikan siklus “serap” dan sisanya akan dibuang.

Energi yang butuhkan sangat besar, maka sebaiknya tidak mengonsumsi makanan berat. Pelaku FC sebaiknya mengawali sahur dengan mengonsumsi buah dulu. Buah memerlukan waktu urai 15 menit dalam tubuh, setelah itu baru makan sahur.

Dengan demikian, pelaku FC tetap dapat menjalankan puasa dengan baik tanpa meninggalkan ritual FC. Orang lain tetap juga boleh mencoba pola makan ini. Beberapa testimoni dapat dibaca pada bagian akhir buku sebagai penguatan pembaca yang ingin menerapkan pola makan FC selama puasa. Umumnya, pelaku FC yang berpuasa memperoleh kesehatan yang berkualitas dan waktu beribadah menjadi lebih maksimal karena tubuh lebih fresh.


sumber: https://cantingbening.wordpress.com/2013/08/01/resensi-buku-food-combining-di-bulan-ramadan/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Sumatera Barat

Mengapa Wanita Cantik Terkadang Pasangannya Tidak Tampan?