Aku Anak Zaman

Mari kita menengok ke belakang sejenak, mengingat bagaimana diri kita dimasa kanak-kanak...

Dulu, ketika saya masih kanak-kanak, saya begitu menurut dengan apa yang disampaikan orang tua dan guru saya. Perubahan terjadi ketika saya mulai memasuki usia baligh. Pada usia baligh, logika berpikir saya sudah mulai jalan, sehingga sering sekali saya berdebat dengan orang tua saya.

Mengapa begitu?

Kalau kita belajar mengenai psikologi perkembangan, kita akan paham dengan apa yang dinamakan fase dewasa muda (akil baligh). Saya tidak akan menyebut remaja di usia ini. Karena ketika saya bertemu dengan anak usia 14 tahun, saya merasa mereka sama dengan saya. Logika berpikir mereka sudah berjalan, organ-organ di tubuh mereka sudah berjalan dengan baik. Mereka sama seperti saya, namun yang membedakan saya dengan mereka adalah pengalaman hidup. Saya 10 tahun lebih tua dari mereka, dan saya memiliki pengalaman selama 10 tahun menjalani kehidupan sebagai dewasa muda.


Berikut ini adalah kondisi pikiran anak menurut rentan usia (Zaskia, 2016:15)   :

1.  Saat kita dilahirkan, kita hanya mempunyai satu pikiran, yaitu pikiran bawah sadar. Kita belum mempunyai pikiran sadar. Pikiran sadar baru terbentuk saat usia 3 tahun. Dan akan berkembang dan bekerja secara optimal di saat usia 3 tahun.
-    2.  Antara pikiran sadar dan bawah sadar dihubungkan oleh salah satu celah yang disebut critical factor. Critical factor berperan sebagai penjaga dan penyaring informasi yang akan masuk dari pikiran sadar ke pikiran bawah sadar.
-   3. Ada berita baik/buruk mengenai hal ini. Apa pun yang kita katakan kepada anak usia 0 sampai 13 tahun akan sangat mudah masuk ke pikiran bawah sadar tanpa bisa dianalisis atau disaring.

Pada usia baligh, seorang manusia sudah memiliki kesadaran bahwa memiliki jiwa, raga dan pikiran sendiri. Ke"aku"annya mulai muncul. Dan sebagai orang tua / pendidik, harus menyadari hal-hal tersebut.

Ketika  usia baligh, saya menyadari bahwa saya memiliki minat yang berbeda dengan orang tua saya. Padahal kami memiliki hubungan genetik. Ayah saya sangat menyukai bidang sains dan teknik. Sedangkan saya memiliki minat di bidang humaniora. Saya suka sejarah, saya suka antropologi, dan saya suka sastra. Sayangnya, orang tua saya tidak menyukai dengan apa yang saya sukai ini. 

Mari kita renungkan 'Teori Kemelekatan' pada syair Kahlil Ghibran ini:

"Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap."


Seringkali kita menuhankan diri kita sendiri. Menganggap anak-anak di sekiling kita adalah robot yang bisa kontrol sesuka kita. Kita lupa cara memanusiakan manusia dengan perlakuan otoriter kita terhadap anak-anak kita sendiri. Kita sering kali lupa bahwa anak-anak itu manusia masa depan yang akan menghapi problem yang berbeda dengan problem yang kita hadapi sekarang. Dan sejak lahir, ia memiliki fitrah bakat masing-masing, yang tidak dapat disamakan.

Bila Anda seusia saya, Anda sedang mengalami fase anak panah yang sedang melesat, dan dalam waktu yang bersamaan, Anda harus sudah mempersiapkan diri untuk menjadi busur yang mantap.

Kemudian, pertanyaan-pertanyaan begitu saja bermunculan di kepala; "Sudahkah saya menajdi anak panah yang melesat laksana kilat? Akankah saya menjadi busur yang yang mantap?"


Bibliografi:
Zakia, Sasha . 2016. Anak Hebat Berkat Hipnodongeng: Panduan Hipodongeng dalam Mendidik Anak. Yogyakarata: Laksana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Sumatera Barat

Mengapa Wanita Cantik Terkadang Pasangannya Tidak Tampan?