PEMILIHAN BACAAN SASTRA ANAK



PEMILIHAN BACAAN SASTRA ANAK


MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS KELOMPOK
MATA KULIAH
Pembelajaran Sastra SD
Yang dibina oleh Ibu Ratna Trieka Agustina



Oleh:
Indah Hasnanini                                  130151600641
                        Maidalisa                                             130151600643
                        Mika Samson Mau                              130151600621
                        Ribka E Talomanafe                           130151600614
                        Sri Minarti                                           130151600638









UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH
Februari 2016

                                                                                                                           i
KATA PENGANTAR
            Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberi kesempatan dan nikmat yang tidak terkira, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya. Makalah ini berjudul “Pemilihan Bacaan Sastra Anak”, yang disusun untuk menyajikan materi tentang cara pemilihan bacaan sastra dan penilaian bacaan sastra anak.
Dalam penulisan makalah ini penulis banyak mendapat masukan dari dosen pembimbing dan teman-teman kelas, maka dari itu penulis mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya. Tidak lupa pula, bahwa dalam penulisan makalah ini banyak terdapat kesalahan, dan penulis mohon kritik dan sarannya, demi kesempurnaan makalah penulis yang selanjutnya.




                                                                                    Malang, 09 Februari 2016
                                                                                    Penulis,


                                                                                    Kelompok III                                      


         ii
DAFTAR ISI

BAB I      PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang1
B.     Rumusan Masalah1
C.     Tujuan Penulisan1

BAB II    PEMBAHASAN
A.     Tahap Perkembangan Anak dan Pemilihan Bacaan2
1.      Perkembangan Intelektual3
2.      Perkembangan Moral7
3.      Perkembangan Emosional dan Personal9
4.      Perkembangan Bahasa12
5.      Perkembangan Konsep Cerita17
B.     Penilaian Sastra Anak18
1.      Alur Cerita18
2.      Penokohan19
3.      Tema dan Moral20
4.      Latar22
5.      Stile22
6.      Ilustrasi22
7.      Format23
C.       Memilih Buku Bacaan Untuk Anak SD24

BAB III   PENUTUP
A.     Penutup26
B.     Saran26
Daftar Rujukan27


BAB I
PENDAHULUAN

A.                 Latarbelakang
Anak belum dapat memilih bacaan sastra yang baik untuk diriya sendiri. Anak akan membaca apa saja bacaan yang ditemui tidak peduli sesuai atau tidak untuknya karena memang belum tahu. Agar anak dapat memperoleh bacaan yang sesuai dengan perkembangan kediriannya, guru harus peduli dengan bacaan yang dikonsumsikan kepadanya (Ibrahim, 2005:48).
Agar  tidak terjadi hal yang tidak diinginkan saat anak membaca buku bacaan, diperlukan adanya pengetahuan tentang buku yang dapat dikonsumsi anak sesuai dengan tahap perkembangan dirinya. Oleh sebab itulah, sangat penting dipahami bahwa pemilihan bacaan yang cocok buat anak menjadi prioritas utama dalam menyediakan buku anak khususnya buku sastra.

B.                 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dapat diambil dalam penulisan ini adalah sebagai berikut.
1.       Bagaimana pemilihan bacaan sastra anak yang sesuai dengan tahap perkembangan dirinya?
2.      Bagaimana penilaian bahan bacaan sastra anak SD?

C.                 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Untuk menguraikan pemilihan bacaan sastra anak yang sesuai dengan tahap perkembangan dirinya.
2.      Untuk menjelaskan penilaian bahan bacaan sastra anak SD.



BAB II
PEMBAHASAN

Pemilihan bacaan tidaklah dilakukan secara serampangan, banyak hal yang perlu diperhatiakan. Misalnya pemilihan bacaan sesuai dengan tahap perkembangan kedirian anak. Penilaian bacaan sastra dalam hal ini dibahas untuk mengetahui sastra yang sesuai disajikan dengan usia perkembangan anak.

A.                 Tahapan Perkembangan Anak dan Pemilihan Bacaan
Perkembangan berbagai aspek kejiwaan anak sesuai dengan usia secara universal melewati tahap-tahap tertentu. Para peneliti telah mengidentifikasikan umur serta tahapan dan karakteristik perkembangan kejiwaan anak yang meliputi aspek berpikir, bahasa, personalitas, moral, dan pertanyaan terkait yang dapat membantu dalamm seleksi bacaan sastra. Dipihak lain, menurut Huck dkk, disamping aspek-aspek yang dikemukakan Brady, perkembangan itu juga melibatkan aspek fisik dan pertumbuhan konsep cerita (Zulela, 2013:34).
Brady mengemukakan bahwa terdapat hal-hal tertentu yang menjadi dasar pemikiran dalam pengujian tahapan perkembangan anak, yaitu sebagai berikut.
a.    Pertimbangan ketertarikan anak terhadap suatu bacaan harus dilihat sebagai kriteria seleksi yang lebih penting daripada anggapan kecocokan yang dilakukan oleh kacamata orang dewasa.
b.    Pemahaman terhadap perkembangan anak secara umum dan terhadap tahapan perkembangan secara khusus akan memberikan informasi yang berharga dalam pemilihan bacaan anak.
c.    Pemahaman terhadap tahapan perkembangan anak akan membantu dalam seleksi bacaan, tetapi itu bukanlah sesuatu yang kaku, bukan sebuah harga mati. Konsep tahapan tersebut mempunyai derajat prediksi dalam suasana budaya yang stabil, tetapi belum memperhitungkan adanya perubahan budaya, waktu, dan geografi, dan karenanya diperlukan penelitian lebih lanjut yang memperhitungkan aspek-aspek itu. Dengan kata lain, sebenarnya masih terdapat problema validitas jika teori tahapan tersebut dijadikan dasar yang "sempurna" dalam seleksi bacaan sastra anak.
d.    Pemahaman kesesuaian dalam pemilihan bacaan dengan tahapan perkembangan anak perlu diperluas dengan mencakup konstribusi tiap tahapan itu.
Pada pembicaraan dibawah ditunjukkan tahapan perkembangan kedirian siswa yang meliputi perkembangan intelektual, moral, emosional dan personal, bahasa, dan pertumbuhan konsep cerita (Brady, 1991:28-37; Huck dkk, 1987:52-63). Tiap tahapan mempunyai karakteristik yang berbeda, walau tidak dalam pengertian bertentangan, sejalan dengan perkembangan tingkat kematangan anak. Hal itu akan membawa konsekuensi logis pada adanya karakteristik yang juga berbeda dengan bacaan yang dinyatakan sesuai (matching) dengan tiap tahapan yang dimaksud. Kesemuanya itu merupakan informasi yang berharga dan penting untuk diketahui dalam rangka pemilihan buku bacaan sastra buat sibuah hati tersayang.

1.                  Perkembangan Intelektual
Berbicara maslaah pertumbuhan dan perkembangan intelektual (kognitif) anak, pada umumnya orang merujuk teori Jean Piaget yang mengemukakan bahwa perkembangan intelektual merupakan hasil interaksi dengan lingkungan dan kematangan anak. Semua anak melewati tahapan intelektual dalam proses yang sama walau tidak harus dalam umur yang sama. Tiap tahapan lebih awal kemudian tergabung dalam tahapan berikutnya sebagai struktur berpikir baru yang sedang berada pada tahap perkembangan. Jadi, tiap tahapan kognitif yang kemudian merupakan kumulasi gabungan dari tahapan-tahapan sebelumnya.
Piaget membedakan perkembangan intelektual anak kedalam empat tahapan. Tiap tahapan mempunyai karakteristik yang membedakannya dengan tahapan yang lain, dan hal itu berkaitan dengan respons anak terhadap bacaan. Sebagai konsekuensinya hal itupun mempunyai implikasi logis dalam pemilihan bahan bacaan anak. Tahapan perkembangan intelektual yang dimaksud adalah sebagai berikut.
1)                  Tahap sensori-motor (the sensory-motor period, 0-2 tahun)
Tahap ini merupakan tahapan pertama dalam perkembangan kognitif anak. Tahap ini disebut sebagai tahap sensori-motor karena perkembangan terjadi berdasarkan informasi dari indera (senses) dan bodi (motor). Karakteristik utama dalam tahap ini adalah bahwa anak belajar lewat koordinasi persepsi indera dan aktivitas motor serta mengembangkan pemahaman sebab-akibat atau hubungan-hubungan berdasarkan sesuatu yang dapat diraih atau dapat berkontak langsug. Anak mulai dapat memahami hubungannya dengan orang lain, mengembangkan pemahaman objek secara permanen.
Dalam usia 1 ½ - 2 tahun anak akan menyukai aktivitas atau permainan bunyi yang mengandung perulangan-perulangan yang ritmis. Anak menyukai bunyi-bunyian yang bersajak dan berirama. Permainan bunyi yang dimaksud dapat berupa nyanyia, kata-kata yang dinyanyikan, atau kata-kata biasa dalam perkataan yang tidak dilagukan. Bunyi-bunyian ritmis akan memicu tumbuhnya rasa keindahan pada diri anak. Hal ini dapat dijumpia dan dilakukan oleh ibu yang menggendong, menyanyikan atau meninabobokan si buah hati. Kesenangan anak terhadap hal-hal tersebut dapat juga dipahami bahwa anak mempunyai bakat keindahan dan menyenangi hal-hal yang terasa indah di inderanya. Permainan bunyi yang berwujud repetisi dan keritmisan merupakan dasar penting bagi penggunaan sebuah sajak.

2)                  Tahap praoperasional (the preoperational period, 2-7 tahun)
Dalam tahap ini anak mulai dapat "mengoperasikan" sesuatu yang sudah mencerminkan aktivitas mental dan tidak lagi semata-mata bersifat fisik. Karakteristik dalam tahap ini antara lain bahwa:
a)      Anak mulai belajar mengaktualisasikan dirinya lewat bahasa, bermain, dan menggambar (corat-coret).
b)      Jalan pikiran anak masih bersifat egosentris, menempatkan dirinya sebagai pusat dunia, yang didasarkan persepsi segera dan pengalaman langsung karena masih kesulitan menempatkan dirinya di antara orang lain. Anak tidak dapat memahami sesuatu dari sudut pandang orang lain.
c)      Anak mempergunakan simbol dengan cara elementer yang pada awalnya lewat gerakan-gerakan tertentu dan kemudian lewat bahasa dalam pembicaraan. Perkembangan kognitif pada saat ini yang secara luar biasa adalah perkembangan bahasa dan konsep formasi.
d)      Pada masa ini anak mengalami proses asimilasi di mana anak mengasimilasikan sesuatu yang didengar, dilihat, dan dirasakan dengan cara menerima ide-ide tersebut ke dalam suatu bentuk skema di dalam kognisinya.
            Kemungkinan implikasinya terhadap buku bacaan sastra yang sesuai dengan karakteristik pada tahap perkembangan intelektual di atas antara lain adalah:
a)      Buku-buku yang menampilkan gambar-gambar sederhana sebagai ilustrasi yang menarik.
b)      Buku-buku bergambar yang memberikan kesempatan anak untuk memanipulasikannya.
c)      Buku-buku yang memberikan kesempatan anak untuk mengenali objek-objek dan situasi tertentu yang bermakna baginya.
d)      Buku-buku cerita yang menampilkan tokoh dan alur yang mencerminkan tingkah laku dan perasaan anak.
            Menurut Donaldson anak usia 3 atau 4 tahun sudah dapat mendemonstrasikan kemampuannya jika objek dan situasi yang dihadapkan kepadanya konkret dan bermakna. Sifat egosentris pada anak akan membawanya untuk dapat menanggapi cerita dengan mengidentifikasikan dirinya terhadap tokoh utama cerita, dan karenanya anak akan mengalami proses asimilasi dengan melihat diri dan dunianya dengan pandangan yang baru.

3)                  Tahap operasional konkret (the concrete operational, 7-11 tahun)
Pada tahap ini anak mulai dapat memahami logika secara stabil. Karakteristik anak pada tahap ini antara lain adalah:
a)      Anak dapat membuat klasifikasi warna sederhana, mengklasifikasikan objek berdasarkan sifat-sifat umum, misalnya klasifikasi warna, klasifikasi karakter tertentu.
b)      Anak dapat membuat urutan sesuatu secara semestinya, mengurutkan abjad, angka, besar-kecil, dan lain-lain.
c)      Anak mulai dapat mengembangkan imajinasinya ke masa lalu dan masa depan, adanya perkembangan dari pola berpikir yang egosentris menjadi lebih mudah untuk mengidentifikasikan sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda.
d)      Anak mulai dapat berpikir argumentatif dan memecahkan masalah sederhana, ada kecenderungan memperoleh ide-ide sebagaimana yang dilakukan oleh orang dewasa, namun belum dapat berpikir tentang sesuatu yang abstrak karena jalan berpikirnya masih terbatas pada situasi yang konkret.
Kemungkinan implikasi terhadap buku bacaan sastra yang sesuai dengan karakteristik pada tahap perkembangan intelektual di atas antara lain buku-buku bacaan yang memiliki karakteristik sebagai berikut.
(a)    Buku-buku bacaan narasi atau eksplanasi yang mengandung urutan logis dari yang sederhana ke yang lebih kompleks.
(b)   Buku-buku bacaan yang menampilkan cerita yang sederhana, baik yang menyangkut masalah yang dikisahkan, cara pengisahan, maupun jumlah tokoh yang dilibatkan.
(c)    Buku-buku bacaan yang menampilkan berbagai objek gambar secara bervariasi, bahkan mungkin yang dalam bentuk diagram dan model sederhana.
(d)   Buku-buku bacaan narasi yang menampilkan narator yang mengisahkan cerita, atau cerita yang dapat membawa anak untuk memproyeksikan dirinya ke waktu atau tempat lain. Dalam masa ini anak sudah dapat terlibat memikirkan dan memecahkan persoalan yang dihadapi tokoh protagonis atau memprediksikan kelanjutan cerita.

4)                 Tahap operasi formal (the formal operational, 11 atau 12 tahun ke atas)
Pada tahap ini, tahap awal adolesen, anak sudah mampu berpikir abstrak. Karakteristik penting dalam tahap ini antara lain:
a)      Anak sudah mampu berpikir "secara ilmiah", berpikir teoritis, beragumentasi dan menguji hipotesis yang mengutamakan kemampuan berpikir.
b)      Anak sudah mampu memecahka masalah secara logis dengan melibatkan berbagai masalah yang terkait.
Implikasi terhadap pemilihan buku bacaan sastra anak adalah:
(a)    Buku-buku bacaan cerita yang menampilkan masalah  yang membawa anak untuk mencari dan menemukan hubungan sebab akibat serta implikasi terhadap karakter tokoh.
(b)   Buku-buku bacaan cerita yang menampilka alur cerita ganda, alur cerita yang mengandung plot dan subplot, yang dapat membawa anak untuk memahami hubungan antarsubplot tersebut, serta yang menampilkan persoalan (atau konflik) dan karakter yang lebih kompleks.
Selain itu, perlu dicatat bahwa belum tentu semua anak yang masuk ke tingkat sekolah menengah pertama sudah mencapai tingkat berpikir formal di atas. Sebagian anak mungkin belum mencapai tingkat itu, tetapi sebagian yang lain justru sudah mampu menunjukkan kemampuan berpikir analitis, misalnya sebagaimana yang terlihat ketika memberikan komentar terhadap buku cerita yang dibacanya. Pemahaman terhadap tahapan intelektual dapat membantu memilih buku-buku bacaan yang sesuai dengan posisi usia dan perkembangan kognitif anak, bagaimanapun ia bukan merupakan sesuatu yang mutlak.

2.                  Perkembangan Moral
Selain mempelajari perkembangan kognitif anak, Piaget juga mendalami hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan moral. Menurut Piaget perbedaan nyata antara dan dewasa adalah bahwa anak memiliki "dua moral". Piaget dan Kohlberg (ahli lain yang mengembangkan teori Piaget lebih lanjut), mengemukakan bagaimana anak mungkin saja mengubah intrepretasinya terhadap dilema konflik dan moral dalam cerita. Penilaian anak terhadap moral bergerak dari keterikatannya pada orang dewasa ke keterperngaruhannya pada kelompok dan berpikir bebasnya.
Perubahan-perubahan penilaian moral anak yang dimaksud, antara lain, adalah sebagai berikut.
1)      Penilaian anak kecil terhadap masalah atau tindakan baik dan buruk berdasarkan kemungkinan adanya hukuman dan hadiah yang diperoleh dari dewasa. Artinya, anak masih terkendala oleh aturan yang dibuat oleh orang dewasa. Pada usia ank yang lebih lanjut terdapat standar penilain tentang baik dan buruk tersebut dari kelompoknya, maka kemudian anak mulai secara sadar memahami situasi kapan dapat membuat aturan sendiri.
2)   Penilaian tingkah laku dalam kacamata anak kecil hanya dapat dibedakan kedalam baik dan buruk, tidak ada alternatif lain. Pada usia anak yang lebih kemudian terdapat kemauan untuk mempertimbangkan lingkungan dan situasi yang membuat legitimasi adanya perbedaan pendapat.
3)   Penialain anak kecil terhadap suatu tindakan cenderung didasarkan pada konsekuensi yang terjadi kemudian tanpa memperhatikan pelakunya. Namun, dalam usia selanjutnya sebagian anak mulai mengubahnya dengan memperhatikan aspek motivasi daripada sekedar konsekuensi untuk menentukan kelayakan tingkat kesalahan.
4)   Pandangan anak kecil terhadap tingkah laku buruk dengan hukuman berjalan bersama, dan semakin besar kesalahan akan semakin berat hukumannya. Namun, bagi anak dalam usia yang lebih kemudian, mereka tidak akan begitu saja menerima keadaan itu. Anak mulai tertarik untk mencari hukuman yang lebih fair berdasarkan aturan yang ada didalam kelompok.
Kohlberg mengidentifikasi perkembangan moral anak kedalam enam tahapan yaitu:
1)   Penghormatan tanpa mempertanyakan terhadap kekuatan yang ada diluar jangkauan, masalah baik dan buruk, boleh dan tidak boleh, ditentukan oleh konsekuensi fisik yang diterima terhadap suatu tindakan yang dilakukan.
2)   Hubungan dipandang dalam pemahaman marketplace  daripada loyalitas, keadilan, atau rasa terimakasih. Anak berprinsip bahwa "jika Anda mencubit saya, sayapun akan mencubit Anda".
3)   Berorientasi pada anak baik, pada tingkah laku anak yang baik, anak menginformasikan gambaran  stereotip dari tingkah laku orang pada umumnya. Tingkah laku yang baik adalah tingkah laku yang mendapat persetujuan, demikian pula yang sebaliknya.
4)   Orientasi sampai ke pemilikotoritas, aturan yang pasti, dan konvensi sosial. Tingkah laku yang baik kini juga dipahami sebagai aktivitas melakukan tugas dan kewajiban, hirmat kepada orang lain, dan tunduk pada aturan sosial.
5)   Kriteria tingkah laku yang benar kini dipahami atau didasarkan dalam kaitannya dengan aturan umum yang standar dan yang disetujui oleh atau telah menjadi konvensi masyarakat.
6)   Keputusan-keputusan individual kini didasarkan pada kata hati, hati nurani, dan etika yang berlaku secara konsisten dan universal.
Perbedaan perkembangan moral kedalam enam kategori di atas harus dipahami sebagai sesuatu yang tidak bersifat mutlak. Tiap tahap berisi sebagai sesuatu yang tidak bersifat mutlak. Tiap tahap berisi berbagai pengalaman moral-sosial yang lebih kompleks drai yang diperkirakan. Walau seorang anak sedang berada dalam satu tahap perkembangan moral tertent, dalam kesempatan yang berbeda mungkin saja ia mengoperasikan tahap yang lain. Selain itu, juga perlu diketahui, dan ini merupakan hal yang harus idingat bahwa tidak mudah menghubungkan antar tahapan tersebut dengan usia anak, dan Kohlberg pun mengemukakan bahwa orang dewasa yang berada dalam tahap 5 dan 6 hanya dalam jumlah persentase yang kecil.

3.                  Perkembangan Emosional dan Personal
Sebagai seorang manusia didalam kedirian anak terdapat berbagai aspek yang sama-sama mengalami pertumbuhan dan saling berkaitan satu dengan yang lain. Aspek-asoek yang dimaksud antara lain adalah kognitif, afektif atau respons emosional, hubungan sosial, dan orientasi nilai-nilai, akan sama-sama terlibat dalam peristiwa pembelajaran. Hal tersebut dapat diibaratkan sebagai sebuah matriks dalam perkembangan personalitas, dan proses perkembangan  itu sungguh amat kompleks. Agar dapat berproses untuk secara penuh berfungsi sebagai seorang manusia (fully functioning), atau agar dapat menjadi seorang manusia yang dapat mengaktualisasikan diri (becoming), berbagai kebutuhan dasar anak harus terpenuhi. Kebutuhan-kebutuhan dasar itu, antara lain, adalah kesadaran bahwa dirinya merasa dicintai dan dapat mencintai, dimengerti, aman dan selamat, diakui sebagai anggota kelompok, dan merasa memiliki kebebasan untuk tumbuh dan berkembang.
Usaha pencarian aktualisasi diri tersebut dapat saja membutuhkan waktu sepanjang hayat, atau bahkan tidak pernah dapat tercapai. Akan tetapi, konsep untuk secara terus-menerus menjadi, becoming, dipahami sebagai sesuatu yang lebih positif daripada konsep sekadar adanya perubahan dalam diri manusia. Manusia memiliki sifat untuk selalu berusaha mencari dan menemukan sesuatu yang berguna dalam hidupnya, untuk beraktualisasi diri, dan hal-hal itulah yang semakin menegaskan sifat-sifat personalitasnya.
Maslow lewat penelitiannya menunjukkan bahwa perkembangan personalitas melewati sebuah hierarki kebutuhan, yaitu dari kebutuhan dasar untuk survival ke kebutuhan kemanusiaan yang lebih tinggi dan unik. Urutan kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah kebutuhan psikologis (psychological needs), keselamatan (safety needs), cinta dan kasih sayang, kepemilikian terhadap seseorang, (love and affection, belongingness needs), penghargaan (esteem needs), aktualisasi diri (self-actualization needs), kebutuhan untuk tahu dan paham (needs to know and understand), dan estetis (aesthetic needs). Kebutuhan hidup yang semakin tinggi, misalnya kebutuhan estetika, belum tentu dapat dicapai oleh semua orang. Namun, begitu seseorang mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, yang bersangkutan justru akan merasa semakin membutuhkan dan berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan selanjutnya. Selain itu, perlu dikemukakan bahwa kita tidak dapat menghubungkan usia dengan urutan kebutuhan itu karena pencapaian suatu kebutuhan sering tidak lengkap dan bervariasi.
Berkaitan dengan perkembangan emosional dan personalitas, Erickson Brady mengemukakan bahwa proses ­becoming terkait dengan periode kritis dalam perkembangan kemanusiaan. Ia mengidentifikasikan adanya delapan tahap dalam perkembangan emosional dan personalitas dan sekaligus dengan perkiraan usia. Kedelapan tahapan tersebut adalah.
1)   Kepercayaan versus ketidakpercayaan (trust vs mistrust, tahun pertama).
2)   Kemandirian versus rasa malu dna ragu (autonomy vs shame & doubt, tahun ketiga).
3)   Prakarsa versus kesalahan (initiative vs guilt, usia prasekolah, 3-6 tahun).
4)   Kerajinan dan kepandaian versus perasaan rendah diri (industry vs inferiority, 6-12 tahun).
5)   Identitas versus kebingungan (identity vs confusion, adolesen).
6)   Keintiman versus isolasi (intimacy vs isolation, awal dewasa).
7)   Generativitas versus stagnasi (geenrativity vs stagnation, dewasa).
8)   Integritas versus keputusasaan (integrity vs despair, dewasa, tua).
Implikasi untuk lima tahap yang pertama adalah sebagai berikut:
1)   Pada tahap kepercayaan (trust) anak membutuhkan makanan dan perawatan. Anak mulai mengenali dirinya yang terpisah dari orang lain atau objek, dan pemahaman terhadap realitas ini membuat aspek trust menjadi penting. Tahap ini sejalan dengan tahap sensori-motor dalam tahapan perkembangan intelektual menurut Piaget.
2)   Pada tahap kemandirian (autonomy) anak belajar kemandirian dengan mencoba melakukan sesuatu secara bebas, atau justru memperoleh pengalaman keragu-raguan jika ternyata inderanya tidak dapat mengelola dunia sekeliling. Tahap ini masih sejalan dengan tahap sensori-motor.
3)   Pada tahap prakarsa versus kesalahan, anak belajar berinisiatif mengeksplorasi dunianya, atau jika tidak dapat melakukannya, mengembangkan rasa ketidakmampuan. Tahap ini sejalan dengan tahap praoperasional.
4)   Pada tahap kepandaian versus perasaan rendah diri, anak berusaha mengembangkan rasa gembira dan bangga jika dapat melakukan sesuatu atau menghasilkan sesuatu dari aktivitasnya, atau justru sikap sebaliknya jika tidak mampu sehingga merasa rendah diri. Tahap ini sejalan dengan tahap operasional konkret.
5)   Pada tahap identitas versus kebingungan, anak mencari dan mengembangkan identitas personal, berusaha mencari dan menemukan identitas dirinya, atau justru merasa ambivalen terhadap identitasnya. Tahap ini sejalan dengan tahap operasional formal.
Kemungkinan implikasi tahapan di atas dalam hal seleksi buku-buku bacaan sastra adalah bahwa pemiihan bacaan haruslah mempertimbangkan bahwa masalah-masalah yang terkandung di dalamnya mampu memberikan kepuasan kepada anak yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Sebagai contoh, anak usia prasekolah aka lebih suka menanggapi bacaan yang menggambarkan kemampuan versus ketidakmampuan seorang anak untuk melakukan sesuatu secara sukses dan menggembirakan. Anak pada usia adolesen lebih menyukai bacaan yang berisi kesuksesan seorang anak atau sekelompok anak dalam petualangan pencarian dan penemuan sesuatu, atau cerita tentang penemuan identitas aeseorang dalam kehidupan sosial yang pluralistik. Anak pada tahap "kepandaian versus perasaan rendah diri" lebih menyukai cerita yang berkisah tentang kemampuan seseorang untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi, tentang pertumbuhan kepribadian seseorang sebagai hasil pengalaman menghadapi berbagai cobaan, dan lain-lain. Hal itu berlaku untuk tokoh-tokoh protagonis yang yang diidentifikasikannya, dan tentu saja tokoh-tokoh itu terkesan hebat karena interaksinya dengan tokoh-tokoh antagonis.

4.                  Perkembangan Bahasa
Anak yang berstatus bayi mulai belajar bahasa lewat bunyi dan ucapan-ucapan yang didengarnya dari sekelilingnya. Pada mulanya anak tidak dapat membedakan bunyi-suara manusia dengan bunyi-bunyian yang lain, tetapi lama-kelamaan mampu membedakannya. Kenyataan bahwa seorang bayi berada dalam kondisi yang amat rentan dan tidak berdaya, bahkan terhadap kelangsungan hidupnya sendiri, tidak dapat berbuat apapun tanpa bantuan orang lain, tetapi dapat belajar berbahasa sungguh merupakan sebuah keajaiban. Apalagi dalam waktu yang relatif singkat, yaitu hanya beberapa tahun, anak sudah mampu berbahasa, mampu menguasai bahasanya sendiri, suatu hal yang hampir mustahil terjadi pada diri orang dewasa. Oleh karena itu, orang kemudian mempertanyakan apa sebenarnya yang terjadi dalam diri anak yang dapat diibaratkan sebagai sebuah kotak hitam (black box) itu, yaitu sesuatu yang menunjukkan adanya unsur ketidakterpahaman tentang apa yang terjadi. Amka dari itu, disusunlah teori-teori akuisisi bahasa yang berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana hal itu terjadi di dalam diri anak itu dalam proses pemerolehan bahasa tersebut (Nurgiyantoro, 2005:60).
Noam Chomsky, seorang linguis "penemu" teori tata bahasa generatif transformasi, berkeyakinan bahwa dalam diri anak terdapat semacam "alat" yang dipergunakan sebagai sarana memperoleh bahasa. Sejak dilahirkan anak sudah memiliki pembawaan, bakat (innate capacity), yang berupa Language Acquisition Devices (LAD, alat pemerolehan bahasa) untuk memperoleh bahasa secara alami. Adanya innate capacity atau LAD tersebut menurut Chomsky dapat dipergunakan untuk menerangkan apa yang terjadi didalam diri anak yang secara ajaib dapat belajar bahasa secara cepat.
Namun demikian, semua orang sependapat bahwa dlaam proses akuisisi bahasa anak juga melewati tahap-tahap tertentu untuk belajar bahasa karena kemampuan sensori-motor masih terbatas. Pola bahasa, kata-kata, pertama anak yang dapat disuarakan berupa bentuk-bentuk perualangan silabik vokal dan konsonan untuk akhirnya menjadi kata-kata tunggal. Misalnya, ucapan "ma-ma, ba-ba, pa-pa" yang pada umumnya berakhir dengan vokal dan kata-kata itu familiar yang sering didengarnya baik dari orang maupun benda atau binatang. Setelah berumur 18 bulan atau 2 tahun anak mulai mampu mempergunakan dua-tiga kata sebagai kalimat untuk mengekspresikan maksud dan tindakan, seperti "maam-maem, dada papa, dada mama". Dalam usia tiga tahun anak dapat memahami bahasa secara luar biasa. Proses internalisasi input struktur yang semakin kompleks dan kosakata yang semakin luas itu terus berlangsung bahasanya. Disekolah anak tidak hanya belajar bagaimana mangatakan, tetapi juga belajar apa yang tidak boleh dikatakan dalam kaitannya dengan fungsi sosial bahasa (Brown, 2000:21). Maka, sekali lagi, bagaimana kita akan menjelaskan "perjalanan fantastik" (fantastic journey) anak dalam proses pemerolehan bahasa yang begitu cepat itu. Hal itulah yang memicu lahirnya teori-teori akuisisi bahasa pada anak.
Dalam proses akuisisi bahasa secara alami, anak memperoleh bahasa dengan menirukan, melihat dan menirukan orang berbicara, namun sebenarnya anak tidak semata-mata sebagai peniru belaka. Ada bukti-bukti yang kuat bahwa anak jauh lebih banyak memahami bahasa daripada yang dapat diproduksi, dan hal itu sungguh di luar dugaan. Hal inipun terjadi dan berimbas pada orang dewasa, kita lebih banyak membaca dan menulis. Dalam usia dua tahun anak sudah mampu menemukan struktur bahasa dan hal itu berlangsung terus-menerus dalam usia selanjutnya. Anak tampaknya mengkonstruksikan bahasa sistemnya sendiri untuk membuat dirinya paham. Didalam diri anak terdapat hubungan yang erat antara perkembangan pemahaman secara kognitif dan kemampuan berbahasa sebagaimana anak mempergunakan bahasa sebagai sarana untuk mengorganisasikan dan menerangkan dunia.
Apa implikasi pemahaman terhadap proses pemerolehan bahasa anak tersebut bagi pemilihan buku bacaan sastra? Satu hal yang pasti adalah bahwa pemilihan bacaan itu mesti didasarkan pada materi yang dapat dipahami anak, yang dituliskan dengan bahasa yang sederhana sehingga dapat dibaca dan dipahami anak, dengan mempertimbangkan kesederhanaan (atau kompleksitas) kosakata dan struktur, namun sekaligus juga berfungsi meningkatkan kekayaan bahasa dan kemampuan berbahasa anak.
Dalam rangka pemahaman atau apresiasi suatu bacaan, ada beberaapa hal yang terlibatkan, yaitu aspek intelektual, emosional, kemampuan berbahasa anak, dan struktur organisasi isi bacaan.keempat hal tersebut harus mendapat perhatian dalam rangka seleksi bacaan anak. Oleh karena itu, dapat diajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu untuk menilai suatu bacaan yang akan dipilih. Misalnya:
1)      Apakah secara intelektual anak dapat memahami materi bacaan cerita itu?
2)      Apakah secara emosional anak sudah siap untuk menerima isi bacaan itu?
3)      Apakah struktur organisasi isi cerita itu sudah dapat dijangkau oleh anak? dan lain-lain.
Sebagai bahan pertimbangan di bawah ini dikemukakan beebrapa karakteristik anak pada kelompok usia tertentu sebagai salah satu kriteria pemilihan buku bacaan sastra anak. Namun demikian, kehati-hatian dan sikap kritis guru harus tetap diutamakan karena harus diakui adanya perbedaan tingkat kecepatan kematangan anak akibat kondisi kehidupan sosial-budaya masyarakat.
           
1)                  Anak usia 3-5 tahun:.
a)    Pemfungsian tahap praoperasional (Piaget).
b)   Pengalaman pada tahap prakarsa versus kesalahan (Erickson).
c)    Penafsiran baik dan buruk. Boleh dan tidak boleh, berdasarkan konsekuensi fisik dan hadiah atau hukuman.
d)   Perkembangan bahasa langsung sangat cepat, dan pada usia lima tahun sudah mampu berbicara dalam kalimat kompleks.
e)    Perkembangan kemampuan perseptual seperti membedakan warna dan mengenali atribut yang berbeda pada objek yang mirip.
f)     Cara berpikir dan bertingkah laku egosentris.
g)    Belajar lewat pengalaman tangan pertama.
h)    Mulai menyatakan sesuatu secara bebas.
i)      Belajar lewat permainan imaginatif.
j)     Membutuhkan pujian dan persetujuan dari dewasa.
k)   Kurang memperhatikan masalah waktu.
l)      Mengembangkan rasa tertarik dalam aktivitas kelompok.

2)                  Anak usia 6 dan 7 tahun.
a)      Beralih ke cara berpikir tahap operasional konkret (Piaget), mulai berpikir beda, menentang, dan bersikap hati-hati.
b)      Pengalaman pada tahap kepandaian versus perasaan rendah diri (Erickson).
c)      Penerimaan konsep benar (baik) berdasarkan hadiah dan persetujuan.
d)      Melanjutkan perkembangan pemerolehan bahasa.
e)      Mulai memisahkan fantasi dari realitas.
f)        Belajar berangkat dari persepsi dan pengalaman langsung.
g)      Mulai berpikir abstrak, tetapi belajar lebih banyak terjadi berdasarkan pengalaman konkret.
h)      Lebih membutuhkan pujian dan persetujuan dari orang dewasa.
i)        Menunjukkan sensitivitas rasa dan sikap terhadap anak lain dan orang dewasa.
j)        Berpertisipasi dalam kelompok sebagai anggota.
k)      Mulai tumbuh rasa keadilan dan ingin bebas dari orang dewasa.
l)        Menunjukkan perilaku egosentris dan sering menuntut.

3)                  Anak usia 8 dan 9 tahun.
a)      Pemfungsian tahap berpikir operasional konkret (Piaget), berpikir kini lebih fleksibel dan hati-hati.
b)      Pengalaman pada tahap kepandaian versus perasaan rendah diri (Erickson).
c)      Penerimaan konsep berdasarkan aturan.
d)      Adanya perhatian dan penghormatan dari kelompok kini lebih penting.
e)      Mulai melihat dengan sudut pandang orang lain dan semakin berkurangnya sifat egosentris.
f)        Mengembangkan konsep dan hubungan spesial.
g)      Menghargai petualangan imaginatif.
h)      Menunjukkan minat dan keterampilan yang berbeda dengan kelompoknya.
i)        Mempunyai ketertarikan pada hobi dan koleksi yang bervariasi.
j)        Menunjukkan peningkatan kemampuan mengutarakan ide ke dalam kata-kata.
k)      Membentuk persahabatan yang khusus.

4)                  Anak usia 10-12 tahun.
a)      Pemfungsian tahap operasional konkret (Piaget), dapat melihat hubungan yang lebih abstrak.
b)      Pengalaman pada tahap kepandaian versus perasaan rendah diri (Erickson).
c)      Penerimaan masalah benar berdasarkan ke-fair-an.
d)      Memiliki ketertarikan yang kuat dalam aktivitas sosial.
e)      Meningkatnya minat pada kelompok, mencari kekariban dalam kelompok.
f)        Mulai mengadopsi model kepada orang lain daripada ke orang tua.
g)      Menunjukkan minatnya pada aktivitas khusus.
h)      Mencari persetujuan dan mengesankan.
i)        Menunjukkan kemampuan dan kemauan untuk melihat sudut pandang orang lain.
j)        Pencarian nilai-nilai.
k)      Menunjukkan adanya perbedaan diantara individu.
l)        Mempunyai citarasa keadilan dan peduli kepada orang lain.
m)    Pemahaman dan penerimaan terhadap adanya aturan berdasarkan jenis kelamin.

5)                  Anak usia 13 dan adolesen.
a)      Pemfungsian tahap operasional formal (Piaget), kemampuan untuk memprediksi, menginferensi, berhipotesis tanpa refrensi.
b)      Pengalaman tahap identitas versus kebingungan (Erickson).
c)      Mungkin beralih ke tahap otonomi moral (tahap 5 dan 6 menurut Kohlberg).
d)      Menunjukkan kebebasannya dari keluarga sebagai langkah menuju ke awal kedewasaan.
e)      Mengidentifikasi diri dengan dewasa yang dikagumi.
f)        Menunjukkan ketertarikannya pada isu-isu filosofis, etis, dan religius.
g)      Pencarian sesuatu yang idealistis.

5.                  Pertumbuhan Konsep Cerita
Kini timbul pertanyaan, bagaimana dan kapan pertumbuhan konsep cerita pada anak, atau secara lebih konkret kapan anak mulai butuh cerita. Pemahaman terhadap pola pertumbuhan ini merupakan hal yang penting bagi kita untuk membawa anak ke bacaan sastra. Sebagaimana dikemukakan berbagai aktivitas yang menunjang pertumbuhan dan perkembangan bahasa anak seperti nyanyian, permainan perulangan bunyi, tembang-tembang ninabobo, dan lain-lain dapat dikategorikan sebagai tahap awal pengenalan sastra kepada anak, pengenalan dan pemicu bakat dan apresiasi keindahan kepada anak.
Pada tahap selanjutnya, tetapi masih dalam usia dini kepada anak mulai diberi cerita, cerita tentang apa saja yang mungkin diberikan sesuai dengan dunia anak. Secara teknis dalam hal ini, cerita atau sastra dapat dipahami sebagai bagian dari sebuah sistem konstruks untuk melihat dunia, sebagai suatu sarana bagaimana dan dari sudut mana kita melihat dunia.  Jika sastra itu adalah sastra anak, ia dapat dipahami sebagai sebuah sarana bagaimana dan dari sudut mana anak dibawa untuk melihat dunia, atau bagaimana dunia itu disampaikan kepada anak. Sastra dapat dipahami sebagai sebuah kerangka dari jalinan gagasan tentang apa yang terjadi dan bagaimana kejadian itu diceritakan. Jadi, sastra dipakai sebagai salah satu cara untuk memahamkan dunia sekeliling kepada anak, tidak saja menyangkut maslaah apa yang dipahamkan (isi, gagasan, "dunia" itu sendiri) melainkan juga bagaimana cara memahamkannya (bentuk).
Perkembangan kebahasaan anak sejalan dengan perkembangan intelektual dan aspek-aspek personalitas yang lain. Kenyataan ini dapat dipergunakan sebagai pijakan pemahaman bahwa dalam usia setelah mulai dapat memahami dan memproduksi bahasa, anak mulai dapat menerima dan mengembangkan pemahaman tentang dunia. Salah satu sarana untuk maksud itu adalah cerita. Bersamaan dengan proses itu tumbuh pula konsep cerita pada anak. Keadaan ini tidak mudah dibuktikan karena anak tidak dapat diuji atau ditanyai untuk maksud tersebut. Namun, lewat studi longitudinal dapat dilihat dan bagaimana anak mulai tertarik pada cerita. Pada usia tiga tahun, atau bahkan lebih awal lagi, anak sudah dapat diberi cerita, dan bahkan sering minta untuk diceritai. Pada usia prasekolah, 3 sampai 4 tahun, anak sering terlihat "membaca buku", atau minta untuk dibacakan buku cerita. Aktivitas anak tersebut memang sekadar imitasi dari orang dewasa yang sering dilihat melakukannya, tetapi bagaimanapun juga lewat cara itu pada diri anak mulai tertanam kesadaran akan kebutuhan cerita, kebutuhan untuk melihat dunia, dan itu dapat diperoleh lewat buku bacaan.

B.                 PENILAIAN SASTRA ANAK
Penilaian sastra anak yang dimaksud haruslah dipahami dalam kaitannya dengan tujuan pemilihan bacaan anak sesuai dengan perkembangan kediriannya. Kita harus berfikir kritis memilihkan bacaan cerita sastra yang sesuai dan efektif buat anak, bacaan yang baik dan sengaja di konsumsi untuk bacaan anak-anak. Ada berbagai penilaian yang akan diuraikan meliputi penilaian alur sastra, penokohan, tema dan moral, latar, stile, ilustrasi dan format.

1.                  Alur Cerita
Alur merupakan aspek pertama yang harus dipertimbangkan karena aspek inilah yang juga pertama-tama menentukan menarik atau tidaknya sebuah cerita. Alur berkaitan dengan masalah urutan penyajian cerita, tetapi bukan hanya masalah saja yang menjadi persoalan alur.
Alur dalam cerita anak juga harus memenuhi kaidah pengembangan alur. Ada beberapa kaidah yang perlu diperhatikan dalam mempertimbangkan bacaan sastra anak.

a.                  Plausibilitas
Cerita yang dikisahkan memiliki derajat yang dapat dipercaya (plausibilitas), memiliki unsyur-unsyur kemasukakalan, memiliki pertimbangan bahwa secara akal dapat diterima. Masalah plausibilitas tidak perlu ditafsirkan bahwa peristiwa yang dikisahkan benar-benar ada. Artinya, ada realitas lain selain realitas faktual yaitu realitas imaginatif.
b.                  Suspense
Cerita hendaknya menjaga rasa ingin tahu (suspense)nya pembaca. Cerita yang menarik biasanya mampu menampilkan rasa ingin tahudan rasa penasaran. Ada sejumlah cara untuk menjaga rasa ingin tahu, misalnya dengan mengisahkan peristiwa seru sedikit demi sedikit, membuka misteri sebagian, atau memperlihatkan adanya pembayangan akan hadirnya peristiwa berikut yang lebih seru.

2.                  Penokohan
Dalam sebuah cerita, alur memegang peran penting karena ialah yang menggerakkan peristiwa dan cerita, tetapi tokoh merupakan unsyur cerita yang paling banyak dibicarakan. Tokoh cerita yang hadir sebagai pelaku berbagai aksi yang seru atau menegangkan sering lebih mengesankan hati pembaca.

a.                  Kualifikasi Tokoh
Tokoh cerita hadir dihadapan pembaca membawa kualifikasi tertentu, terutama yang menyangkut jati diri. Adanya identitas jati diri itulah yang menyebabkan tokoh yang satu berbeda dengan tokoh yang lain. Tokoh itu sendiri dapat dipahami sebagai seseorang yang memiliki sejumlah kulifikasi mental dan fisik yang membedakannya dengan yang lain.
Lewat kualifikasi mental dan fisik tokoh cerita dapat tampil dengan berbagai perwatakan. Pada umumnya cerita anak menampilkan tokoh yang terbelah, yaitu tokoh yang berkualifikasi baik atau jahat. Dilihat dari dimensi perwatakan tokoh, tokoh cerita anak lebih berkategori berwatak datar (flat character) dari pada berkarakter bulat (round character).
b.                  Pengungkapan Tokoh
Secara garis besar perwatakan tokoh dapat diungkapkan lewat dua cara. Meliputi, cara langsung dan tidak langsung, cara ekspositori dan dramatik.

1)                  Cara Langsung Atau Uraian (Telling)
Teliing menggungkapkan karakter tokoh secara langsung dengan “diuraikan” oleh pengarang. Pengarang secara jelas menunjukan atau mendeskripsikan watak tokoh, bahkan sering diawal cerita belum-belum kita sudah mengetahui watak tokoh yang bersangkutan. Misalnya seorang pengarang menulis: “sinta seorang anak manis yang bsik. Ia anak yang rajin, tidak perna berbuat nakal, suka membantu ibu, rajin belajar, lebih suka membaca buku daripada menonton televisi atau bermain-main. Ia juga disenangi oleh kawan-kawannya. Pengungkapan watak tokoh dengan cara ini terkesan praktis, singkat, efisien dan mudah dipahami. Cara ini tepatnya dilakukan untuk bacaan anak usia prasekolah dan sekolah kelas rendah.

2)                  Cara Ragaan (Showing)
cara ragaan (showing) atau dramatik yang mengungkapkan watak tokoh secara tidak langsung lewat alur cerita. Jadi watak tidak diuraikan dan dideskripsikan secara serta-merta begitu saja, melainkan diungkapkan secara terselubung lewat cerita. Untuk membaca watak itu, pembaca dipersilakan untuk menafsirkan sendiri, tentu saja dengan konsekuensi belum tentu sesuai dengan yang dimaksudka oleh pengarang. Cara pengungkapkan seperti inisebenarnya lebih alami dan lifelikeness. Selain itu, cara dramatik viasanya lebih menarik karena, selain pembeca tidak merasa digurui, justru disitulah letak seninya membaca cerita.
Pengungkapan cerita dengan cara dramatik sepertinya kurang efektif untuk anak usia prasekolah dan sekolah kelas rendah, tetapi sudah dapat diterimah ole anak-anak kelas yang lebih tinggi, tetapiderajat kedramatiknya tentunya masih tergolong sederhana. Cara pengungkapan watak tokoh dalam sebuah cerita biasanya memanfaatkan cara uraian dan dramatik sekaligus. Variasi cara pengungkapan karakter tokoh juga merupakan salah satu cara untuk mencapai keindahan cerita.

3.                  Tema dan Moral
Tema dalam sebuah cerita dapat dipahami sebagai sebuah makna, makna yang mengikat keseluruhan unsur cerita sehingga cerita itu hadir sebagaisebuah kesatuan yang padu. Berbagai unsur fiksi seperti alur, tokoh, alat sudut pandang, stile dan nilai-nilai beerkaitan secara sinergis untuk bersama-sama mendukung eksistensi tema. Dalam sebuah cerita, tema jarang diungkapkan secara eksplisit, tetapi menjiwai keseluruhan cerita. Seringkali dapat ditemukan sebuah kalimat, alinea atau kata-kata dialog yang mencerminkan tema keseluruhan. Jadi walaupun eksistensi itu dalam sebuah cerita tidak diragukan dan pada umumnya dapat dirasakan, sebuah substansi dan keberadaannya haruslah ditemukan lewat pembaca dan pemahaman kritis.
Dengan fungsi memikat keseluruhan aspek cerita secara padu dan sinergis,  tema juga dipahami sebagai ide utama atau makna utama dari sebuah tulisan. Sebagai ilustrasi Lukens mencontohkan, jika kita mempertanyakan, misalya; apa yang terjadi, mengapa bisa terjadi seperti itu, bagaimana kejadian selanjutnya dan siapa yang melakukannya, bagaimana ia melakukannya, apakah dia dapat mengatasi masalah itu, dan sebagainnya adalah persoalan alur dan tokoh cerita, tetapi jika kemudian kita mempertanyaan apa artinya itu semua, apa maksudnya, atau pertanyaan-pertanyaan yang sejenis dengan hal itu, berarti kita mempertanyaan tema. Dengan demikian, pertanyaan tentang tema itu sebenarnya sering dilakukan oleh pembaca waktu itu hanya di dalam hat. Demikian juga dengan pembaca anak, bisa jadi ia pun telah memikirkan makna cerita yang dibacanya.
Moral dalam sebuah cerita dapat dapat dipahami sebagai suatu saran yang berkaitan dengan ajaran moral tertentu yang terkandung dalam cerita itu, atau sengaja dimaksudkan oleh pengarang untuk disampaikan kepada pembaca yang mengandung unsur kemanfaatan bagi dirinya. Dalam cerita anak, tujuan memberikan pesan moral biasanya yang menjadi motif penulisan cerita itu sendiri. Lewat sebuah cerita, selain dihidangkan yang menyenangkan , secara langsung atau tidak langsung pembaca anak diberikan ajaran moral.
Aspek tema dan moral dalam sebuah cerita adakalanya bersifat tumpang-tindih, dalam arti pernyataan tema juga sekaligus merupakan moral atau sebaliknya. Hal itu merupakan sesuatu yang wajar karena keduanya merupakan makna sebuah cerita. Tema yang menyarankan pada suatu ajaran moral tertentu yang bersifat praktis pada hakekatnya adalah moral. Moral merupakan salah satu wujud tema dalam bentuk yang sederhana,walau tidak semua tema semestinya merupakan nilai moral. Moral bersifat praktis, karena “ajaran” yang diberikan langsung ditunjukan secara konkret lewat sikap dan tingkah laku tokoh cerita.

4.                  Latar
Sebuah cerita memerlukan kejelasan kejadian mengenai dimana terjadi dan kapan waktu terjadinya untuk memudahkan pengimajian dan pemahaman. Hsl itu berartai bahwa sebuah cerita memerlukan latar, latar tempaat kejadian, latar waktu, dan latar sosial budaya masyarakat tempat kisah terjadi. Latar menjadi landas tupu cerita, dan juga penting dalam rangka pengembangna cerita. Latar memberikan dasar berpijak secara konkret dan jelas. Hal itu akan memberikan kesan realistik kepada pembaca, anak, yaitu bahwa cerita yang dikisahkan seolah-olah ada dan terjadi sungguh-sungguh. Jika latar yang disajikan sudah dikenal pembaca, terutama latar tempat, maka akan semakin melibatkan anak ke dalam cerita karena merasa seolah-olah dirinya merupakan bagian dari cerita itu. Sebaliknya, jika latar itu belum dikenal, anak akan mendapat informasi baru tentang keadaan latar di tempat lain. Demikian juga mengenai kebiasaan hidup yang merupakan salah satu bentuk latar sosial budaya masyarakat setempatyang berbeda dengan yang ada dis sikelilingnya. Hal itu penting dalam rangka pemahaman dan pengembangan wawasan multikultural. Latar tempat itu disebut juga sebagai latar fisik, sedangkan latar sosial budaya sebagai latar spiritual.

5.                  Stile
Stile berkaitan dengan bahasa yang digunakan dalam sastra. Jadi stile itu termasuk dalam kategori bentuk, yaitu bentuk atau sarana yang dipergunakan untuk mengekspresikan gagasan. Aspek stile menentukan mudah atau sulinya cerita dipahami, menarik atau tidaknya cerita yang dikisahkan, dan karakternya juga mempebgaruhi efek keindahan yang ingin dicapai. Dalam sastra anak peran stile menjadi lebih penting justru karena anak belum mampu memahami bahasa yang kompleks, sementara mereka memerlukan bacaan cerita sebagai salah satu sarana memperoleh hiburan.

6.                  Ilustrasi
Ilustrasi adalah gambar-ganbar yang menyertai cerita dalam buku sastra anak. Hapir semua sastra anak dari berbagai genre pada umumnya disertai gambar-gambar ilustrasi yang menarik. Salah satu yang membedakan buku bacaan sastra anak denganbuku orang dewasa yang paling mudah dikenali adalah ilustrasi yang menyertai teks verbal itu. Buku-buku yang tidak ada gambar ilustrasinya dan jumlah halamannya tidak banyak dapat dipastikanitu bukan buku bacaan anak. Kehadiran ilustrasi pada sastra anak, apalagi biku yang sengaja dimaksudkan untuk anak-anak yang lebih kecil, misanya usia TK atau SD kelas-kelas awa, harus wajib.
Kehadiran ilustrasi tersebut dalam banyak hal akan menentukan daya tarik buku-buku bacaan yang bersangkutan bagi anak-anak. Buku-buku yang diilustrasikannya menarik akan merangsang rasa ingin tahu anak sehingga mampu membangkitkan motivasi untuk membaca. Oleh karena itu, salah satu kriteria pemilihan bacaan sastra anak adalah dengan mempertimbangkan ilustrasi yang ada pada buku-buku bacaan. Ilustrasi dalam satra anak dapat berupa lukisan, foto reproduksi gambar, dan gambar-gambar yang sengaja dimaksudkan untuk memperkuat dan mengkogretkan apa yang dikisahkan secara verbal. Antara teks verbal dan ilustrasi yang menyertainya ada keterkaitan logika yang erat, ada keterjalinan cerita yang saling mengisi dan melengkapi untuk mendukung makna secara keseluruhan. Ketika membaca cerita yang diungkapkan lewat teks verbal, anak akan melihat gambar-gambar yang menyertainya dan mempertimbangkan keterkaitannya. ilustrasi yang ada dalam bacaan anak, harus fungsional, dan tidak sekedar ilustrasi yang asal-asalan yang tidak berkaitan denganteks verbal dan tema keseluruhan.
Ilustrasi buku-buku sastra harus menarik perhatian anak, untuk itu gambar-gambar yang digunakan harus jelas, warna-warni, komunitatif dan ditampilkan secara variatif pada setiap halaman buku, selain itu gambar-gambar tersebut harus menampilkan tokoh anak, lucu dan secara jelas melukiskan sesuatu. Gambar-gambar ilustrasi pada buku anak yang lebih kecil umumnya lebih dominan daripada teks verbal, dengan komposisi warna yang lebih mencolok, lebih besar dan hampir memenuhi halaman-halaman buku.

7.                  Format
Format bacaan memegang peran penting untuk memotivasi anak untuk membaca sebuah buku bacaan cerita walau format itu sendiri bukan bagian dari cerita. Yang termasuk bagian format buku adalah bentuk, ukuran, desain sampul, desain halaman, ilustrasi ukuran huruf, jumlah halaman, kualitas kertas, dan model penjilidan.
Ketepatan sebuah format tidak hanya ditentukan oleh salah satu atau beberapa aspek saja, melainkan keterpaduan dari keseluruhan aspek format dan bahkan juga dengan isi bacaan cerita. Desain sampul yang terdiri dari gambar dan tulisan harus kelihatan provokatif dan sekaligus harus berkaitan dengan adegan tertentu dalam isi cerita. Untuk bacaan anak, ilustrasi masih amat diperlukan, tidak hanya di halaman sampul tetapi di dalam buku. Ilustrasi tersebut selain memperindah buku dan memotivasi anak untuk membacanya, juga memberikan efek pencitraan yang lebih mendalam. Bahkan orang dewasa pun juga senang melihat buku anak-anak yang dilengkapi dengan gambar-gambar menarik.
Ukuran huruf juga penting untuk buku bacaan anak. Bacaan untuk anak-anak kelas rendah bahkan prasekolah haruslah ditulis dengan huruf-huruf yang relatif besar. Selain untuk memotivasi anak, khususnya bagi anak yang sedang belajar membaca, bentuk huruf yang besar akan memberikan kesan sensoris yang lebih baik, memudahkan untuk mengingat, atau menirukan dalam latihan menulis. Bacaan untuk anak yang lebih besar dengan kelas yang lebih tinggi, huruf bacaan yang dibuat harus lebih kecil. Penggunaan huruf besar pada buku bacaab kelas yang lebih tinngi membuat mereka merasa diri sebagai bocah cilik, dan itu akan membuat mereka malas membacanya.
Panjang pendek cerita atau jumlah halaman juga penting untuk dipertimbangkan untuk pemilihan bacaan anak. Untuk bacaan cerita anak di kelas awal, jumlah satu halaman sudah cukup panjang, tetapi untuk anak kelas lebih tinggi jumlah halaman harus meningkat. Tidak aada ketentuan pasti tentang jumlah halaman tersebut, namun jumlah halaman yang panjang atau buku yang tebal kadang-kadang menyebabkan anak merasa gamang untuk membaca dan menyelesaikannya.

C.                 Memilih Buku Bacaan Untuk Anak SD
            Memilih buku yang kita sukai dan anak-anak juga menyukainya, anak-anak akan senang jika buku itu memiliki cerita yang menyenangkan. Berikut adalah beberapa saran untuk memilih buku yang baik untuk dibaca nyaring.
1.      Memperhatika anak-anak di sekolah atau perpustakaan umum. Membuat catatan dari buku yang mereka pilih. Artinya kita merangkum buku apa yang paling disukai anak-anak.
2.      Tanya suatu sekolah atau perpustakaan umum. Mereka biasanya memiliki daftar buku yang direkomendasikan untuk anak-anak SD .
3.      Ingat buku apa yang kita sukai pada saat kita masih anak-anak. Beritahulah  anak-anak  bahwa ada banyak buku-buku favorit untuk dibaca .
4.      Mengidentifikasi buku yang direkomendasikan oleh sekolah atau perpustakaan umum.
Banyak hal yang bisa dilakukan guru untuk memilih buku untuk anak-anak didiknya. 
1.      Menyediakan waktu dan kesempatan untuk berbicara dengan anak-anak secara individual tentang bacaan yang ia pilih. Memenuhi pertemuan dengan beberapa anak setiap hari, terus bersama mereka membaca dan merespon mereka, dan perhatikan ide-ide untuk membantu setiap  pengalaman membaca anak-anak.
2.      Sebelum, selama, dan setelah membaca nyaring, mendorong anak-anak untuk merespon cerita. Tumbuhkan bahwa anak-anak tampaknya memiliki kecenderungan alami untuk respon estetis. Perlu diingat juga bahwa tanggapan estetikaitu adalah respon yang luas, dan lebih personal.




BAB III
PENUTUP

A.                Kesimpulan
Buku bacaan sastra mana yang akan kita pilih, dipertimbangkan dengan kesesuaian usia anak yang akan membacanya. Sebelum menyajikan buku sastra atau bacaan sastra anak perlu dilakukan penilaian bacaan sastra, agar apa yang dibaca anak sesuai dengan dunianya. Bacaan sastra yang imaginatif akan menumbuhkan sikap empati anak, sifat kreatif dan lain-lain.

B.                Saran
Saat menyajikan buku sastra bagi anak khususnya anak usia Sekolah Dasar (SD) hendaklah guru melakukan penilaian kelayakan buku sastra. Selain itu, sajikanlah kepada siswa buku-buku yang dapat menumbuhkan kreatifitas siswa dan sikap imaginatifnya guna mengembangkan sifat kreatif sejak dini.




DAFTAR RUJUKAN

Zulela, 2013. Apresiasi Satra Anak. Bandung:Rosda.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak. Yogyakarta:UGM Press.
Ibrahim. 2008. Sastra Anak. Bandung: Rosda.

sumber: http://indahhasnaini.blogspot.co.id/2016/02/pemilihan-bacaan-sastra-anak.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Sumatera Barat

Mengapa Wanita Cantik Terkadang Pasangannya Tidak Tampan?