Anak Laki-Laki di Sekolahan


Yogyakarta, 26 Juni 2016



Hai....saya sekarang bekerja di bidang pendidikan. Saya berprofesi sebagai librarian teacher. Apa sih librarian teacher itu? Tugas saya adalah menanamkan minat baca dan kemampuan literasi siswa (rencananya juga menyisipkan materi berfikir kritis). Saya tidak menyangka bisa bekerja di lembaga pendidikan. Karena selama saya sekolah, saya sama sekali tidak menikmati kegiatan belajar di sekolah. Untungnya tempat saya bekerja ini merupakan 'sekolah idealis' di mana para pendirinya menginginkan sekolah yang bagus di Indonesia. Semoga kami semua yang menjadi bagian dari Yayasan Pengembangan Pendidikan Indonesia & Luqman Al Hakim Internasional School mampu mewujudkannya.


Apa sih rasanya bekerja di bidang pendidikan? Pertama, saya merasa takut; takut tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anak. Saya ini mantan anak bandel yang kini berusaha menjadi manusia dewasa yang lebih baik. Kedua, saya menikmati pekerjaan saya. Karena saya suka anak-anak. Dan saya melihat mereka seperti melihat diri saya di masa lampau. Ketiga, ada sedikit rasa envy karena anak-anak di sekolah saya begitu diperhatikan guru-gurunya, bahkan sekolah menyediakan pendampingan psikologi. Di Semarang ga ada sekolah kayak gini e. Kalaupun ada orang tua saya tidak akan mampu menyekolahkan di sekolahan macam ini.

Suatu ketika saya bertemu anak laki-laki. Entah mengapa saya jadi teringat masa kecil saya ketika zaman masih belajar di pendidikan formal. Dia selalu bergerak aktif, susah untuk diam. Ketika gurunya menerangkan, dia justru asyik melipat kertas. Namun, ketika gurunya bertanya, ia mampu menjawab. Guru-guru jadi sebal dengan murid ini. Karena ia suka sibuk sendiri, bahkan suka bolos pelajaran kalau ia sudah merasa bosan dengan pelajaran.


Karena saya anak perempuan, saya tidak punya keberanian bolos waktu zaman sekolah. Paling saya tidur di kelas, online, baca komik atau ngobrol dengan teman (hehe). Saya jadi teringat ketika saya SD dan guru saya memanggil orang tua saya, bukan karena saya nakal, bukan karena nilai saya jelek, namun karena saya dianggap suka melamun dan tidak pernah mendengarkan materi yang disampaikan guru. Hal itu sangat membekas di hati saya, bahkan sampai saat ini. Apa salah saya? Saya cuma bosan dengan metode mengajar guru tersebut. Kadang kala hal tersebut membuat kepercayaan diri saya berkurang. Dan permasalah-permasalahan dengan guru / dosen yang mengampu saya terus terjadi bahkan hingga saya menginjak bangku kuliah.

Ketika saya kuliah, saya suka membantah dosen. Bagi saya, bantah-membatah dalam ilmu pengetahuan adalah hal yang SAH untuk dilakukan. Karena ilmu pengetahuan yang kita pelajari di bangku sekolah bukan kebenaran yang mutlak, bukan kebenaran yang hakiki. Itu hanya kebenaran yang terus berjalan. Kebenaran hakiki hanya wahyu yang diturunkan Allah. Kenapa? Karena manusia tidak bisa menghilangkan kesubjektifannya. Ayah saya bangga ketika saya mampu berpikir kritis. Namun, belum tentu semua dosen menerima hal tersebut kan?

Apa yang salah dengan diri saya? Saya hanya memiliki pikiran yang terus bergerak sehingga saya sulit berkonsentrasi, sehingga saya gampang lupa. Tapi kenapa mereka tidak bisa menerima diri saya yang seperti ini? Dari kecil saya sudah seperti ini. Saya selalu suka bertanya kepada siapa saja. Itu lah hobi saya, "bertanya". Apakah hal tersebut melanggar syariat Islam? Saya rasa tidak.

Semestinya kita lebih banyak memahami dan memahami, karena setiap orang dilahirkan berbeda. Itu hal yang saya pikirkan ketika saya menghadapi berbagai macam orang. 

Namun, hal ini membuat keyakinan saya bertambah bahwa saya akan tetap konsisten di dunia pendidikan. Entah sebagai dosen, penulis ataupun pemilik yayasan yang concern terhadap anak-anak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing Peliharaan