Gombel Lama, 7 Juli 2014



Bulan ini tidak seperti bulan-bulan sebelumnya, di mana setiap harinya selalu penuh semangat dalam menjalani aktivitas yang padat. 

Patah tulang.

Sebuah bayaran yang harus saya bayar ketika saya mulai terlalu ambisius mengejar segala keinginan. Terlalu banyak project yang diambil sehingga hampir tidak ada hari libur. Rumah hanya sebagai tempat numpang mandi dan numpang tidur. Tanggung jawab dan pekerja keras itu keunggulan saya namun justru dalam satu sisi menjadi boomerang bagi diri saya sendiri. Bermaksud menyelesaikan segala kotrak yang musti dipertanggungjawabkan namun itu saya merasa terjebak dalam padatnya aktivitas. Memang, angka-angka di rekening bertambah jumlahnya. Namun saya mengorbankan satu hal yang bernama kesehatan.
Apakah itu disebut pertanda atau tidak. Sebelum kecelakaan saya melihat di papan pengumuman kesejahteraan mahasiswa mengenai asuransi kecelakaan. Kemudian saya bertemu seorahng teman kemudian ia menyapa saya dan melihat dengan pandangan yang aneh. (Mungkin karena ia melihat wajah tidak sehat saya)


Saya ingat betul ketika peristiwa itu terjadi. Suara kendaraan yang begitu bising dan saya pingsan ketika diboncengkan seorang teman. Ketika terbangun dalam hati saya berkata,”Oh....saya masih hidup ya?” Rok yang saya pakai habis tak bersisa, celana leging sobek-sobek. Tulang selangka patah, luka robek di perut kiri, posisi tulang belikat berantakan, sisanya luka-luka kecil dan memar. Butuh waktu berbulan-bulan supaya luka-luka itu pulih, bahkan sampai hari ini betuk tulang belikat belum normal. Bahu kanan dan bahu kiri bentuknya tidak simetris lagi. Sebenarnya ini menggelikan tetapi kadang saya berpikir apakah saya masih cantik & apakah ada pria yang mau menikahi perempuan yang bentuk bahunya tidak sama? 


2 bulan pertama adalah bulan-bulan terberat yang saya jalani. Terbiasa dengan banyak aktifitas tiba-tiba saya harus istirahat total, seharian di kasur. Entah bagaimana saya harus menyebutnya sebagai musibah atau cara Tuhan menyelamatkan saya. Menjalankan aktifitas tanpa libur itu membuat capek fisik, capek hati dan capek pikiran.  

Saya merasa lega karena bisa libur sekaligus stress. Terbiasa menjalani banyak aktifitas tiba-tiba badrest dan tidak bisa pergi kemana-mana. 

Seharusnya saya istirahat total selama 3 bulan. Rasanya ingin cuti kuliah selama sebulan tetapi tidak memungkinkan. Jadi pada bulan ketiga saya sudah mulai masuk kuliah. Di kelas saya cuma bisa diam dipojokkan menahan rasa sakit. Pulang dan berangkat kuliah sendiri. Teman saya dari teknik sipil sampai istigfar dan memaksa mengantarkan pulang.

Untuk pertama kalinya saya merasa melakukan kesia-siaan. Saya mengusahakan segala sesuatunya dengan kerja keras namun apa yang saya dapatkan tidak sepadan dengan apa yang saya korbakan. Saya banyak merenung. Saya mencari kerumitan, namun hal sederhanan di depan mata justru sering terlupakan.


·         Saya bisa melihat
·         Saya bisa mendengar
·         Saya bisa bernafas
·         Saya memiliki orang-orang yang menyayangi dan tidak pernah lelah untuk memotivasi saya
·         Saya memiliki keluarga yang harmonis
·         Tuhan masih memberikan saya waktu untuk melakukan perbaikan



Saya merasa beruntung. Diingatkan ketika belum menjadi apa-apa dan belum punya apa-apa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Sumatera Barat

Mengapa Wanita Cantik Terkadang Pasangannya Tidak Tampan?