Wawancara Calon Menantu

M = Marya
L = Laki2 muda
I = Ibu
###




 Alkisah, saya, marya rasnial, seorang mahasiswi tahun ketiga di salah satu PTN. Di usia yang semakin bertambah, kadangkala saya merindukan sosok yang membuat saya merasa aman & nyaman. Tentunya untuk jangka panjang dan bukan untuk jangka waktu setahun / dua tahun.  Dari sekian banyak teman laki-laki, ada salah satu laki-laki muda  yang nekat menemui orang tua saya padahal saya masih semester 5 dan saya juga berpesan kalau orang tua saya itu sulit terutama ibu saya. Bayangkan saja, saya sendiri dituntut untuk menjadi yang sempurna, apalagi urusan jodoh. Tentunya ibu saya menginginkan yang sempurna juga.
L              : “Dek, aku suka kamu & mau matur sama orang tuamu”
M             : “Aduh mas, aku kan masih semester 5, belum lulus kuliah”
L              : “Ya aku bakal nunggu kamu to dek sampai kamu lulus kuliah”
M             : “Aku anak perempuan satu-satunya mas, ga mungkin orang tuaku gampang nglepasin aku begitu aja. Orang tuaku susah terutama ibuku”
L              : “Bagiku ga masalah dek, aku siap kok menghadapi orang tuamu”
M             : ”Jangan mas pikir ibuku itu kayak ibu rumah tangga biasa. Ibuku itu wanita karir, pola pikirnya beda dengan ibu biasa. Punya pengalaman 10 tahun sebagai HRD Manager kemudian mengundurkan diri karena alasan keluarga. Tapi sampai saat ini masih aktif di paguyuban HRD. Kalau mau sama aku, mas harus diwawancarai ibu dulu”
L              : “Kalau itu demi kamu, aku bakal siap dek”

Esok harinya, laki-laki muda tersebut datang ke rumah marya dengan dandanan kece, pakaian rapi dan kesungguhan hati.
I               : “Silahkan duduk”
L              : (duduk di ruang tamu)
I               : “Perkenalkan diri Anda”
L              : “Perkenalkan nama saya Roni Syahroni, biasa dipanggil Roni. Umur 25 tahun, lulusan ekonomi Undip. Sekarang saya menjadi karyawan swasta di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi. Hobi saya cari duit”
I               : “Apa kualifikasi Anda sehingga Anda berada dihadapan saya saat ini?”
L              : “Karena saya rajin menabung; punya beberapa deposit. Di mana bila anak perempuan ibu menjadi istri saya, akan saya ajarkan hidup sederhana dan prihatin. Tidak baik untuk berfoya-foya karena masih banyak orang yang membutuhkan di luar sana. Jadi, lebih baik uang yang saya peroleh dishodaqohkan. Bila anak perempuan ibu menjadi istri saya, saya akan mengajak anak ibu untuk rajin beribadah, rajin sholat malam, rajin puasa daud. Di suatu sisi, dengan sering berpuasa daud, pengeluaran menjadi lebih irit. Bila anak perempuan ibu menjadi istri saya, saya mau anak ibu selalu cantik dengan rajin merawat diri. Di rumah kita nanti, akan saya sediakan kolam lumpur untuk berendam istri saya sehingga kulit istri saya bersih dan mulus. Istri saya juga bisa bernyanyi dengan kodok ketika melakukan perawatan diri karena saya tau betul bahwa anak ibu hobi menyanyi”
I               : ( tersenyum puas , menjabat tangan L)
Baik, cukup menarik mengenai apa yang Anda sampaikan. Terima kasih telah hadir pada wawancara ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kucing Peliharaan