Daun Pisang Vs Peralatan Table Manner



Pernah suatu ketika, saya menghadiri acara pernikahan seorang kolega di sebuah restauran mewah. Acara pernikahan tersebut berkonsep pernikahan internasional. Dengan sepasang pengantin menggunakan jas dan gaun putih. Ratusan tamu hadir dengan pakaian rapinya. Disajikan pula menu makanan mewah dengan waiter yang siap sedia menyajikan makanan untuk para tamu. Tentunya saya menggunakan cara makan table manner dan peralatan makan yang super banyak ( bagi saya seperti mau perang ). Ada piring nasi, serbet, sendok nasi, sendok sup, dan saking banyaknya sampai saya tidak hafal.
Kemudian saya berpikir, satu tamu undangan saja membutuhkan peralatan makan yang sangat banyak. Belum lagi jika dikalkulasikan dengan jumlah ratusan tamu undangan. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencuci semua peralatan makan? Berapa banyak sabun cuci piring yang harus digunakan untuk mencuci peralatan makan sebanyak itu? Dan berapa banyak limbah cucian piring yang dihasilkan? Itu baru satu restauran. Berapa restaurant di Semarang? Di Indonesia? Di dunia?????
Berbeda sekali ketika saya membeli gethuk yang hanya berbungkus daun pisang. Sangat simple untuk menikmati hidangan ini. Cukup berbekal tangan yang bersih dan membaca doa sebelum makan saja. Mungkin bagi beberapa bangsa, cara makan ini kurang beradab. Namun, kita tidak perlu berepot-repot ria untuk mencuci piring atau peralatan makan lainnya Setelah selesai makan, bungkusnya hanya tinggal dibuang.. Dan sampah daun pisang pun mudah dikelola dan tidak akan mencemari lingkungan.
Tidak dapat dipungkiri, di era global ini, budaya asing mudah sekali masuk ke negara kita, terutama budaya barat. Karena westernisasi, semuanya menjadi serba sama. Seolah-olah semua bangsa harus memiliki budaya yang sama. Seolah-olah budaya barat budaya yang paling unggul. Padahal tiap bangsa memiliki nilai luhur dari kebudayaannya masing-masing. Sering kali kita melupakan nilai luhur yang diajarkan nenek moyang kita, lantas berbangga bila mengikuti kebudayaan bangsa lain. Memang, tiap-tiap budaya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Hal tersebut berlaku juga pada kebudayaan Indonesia maupun kebudayaan barat. Kita perlu pintar-pintar memilih, budaya mana yang harus ditinggalkan, budaya mana yang harus dipertahankan dan budaya mana yang harus dirubah.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di Sumatera Barat

Mengapa Wanita Cantik Terkadang Pasangannya Tidak Tampan?